Selasa, 12 April 2011

IBNU SINA SANG TOKOH FILSAFAT ISLAM

A. LATAR BELAKANG
Dalam sejarah perkembangan ilmu, peran filsafat ilmu dalam struktur bangunan keilmuan tidak bisa disangsikan. Sebagai landasan filosofis bagi tegaknya suatu ilmu, mustahil para ilmuwan menafikkan peran filsafat ilmu dalam setiap kegiatan keilmuan.
Secara sederhana, filsafat dapat diartikan sebagai berpikir menurut tata tertib yang bebas dan sedalam-dalamnya. Sehingga sampai ke dasar suatu persoalan yakni berpikir yang mempunyai ciri-ciri khusus, seperti analitis, pemahaman, deskriptif, evaluatif, interpretatif dan spekulatif (Muslih,2008:13).
Menurut M.Amin Abdullah, filsafat dapat diartikan sebagai aliran atau hasil pemikiran yakni berupa sistem pemikiran yang konsisten dan dalam taraf tertentu sebagai sistem tertutup, dan sebagai metode berfikir yang dapat dicirikan yaitu mencari ide dasar yang bersifat fundamental, membentuk cara berfikir kritis, menjunjung tinggi kebebasan serta keterbukaan intelektual.
Sementara menurut Liang Gie, menjelaskan bahwa filsafat ilmu merupakan suatu analisis dan pelukisan tentang ilmu dari berbagai sudut tinjauan, termasuk logika, metodologi, sosiologi, sejarah ilmu dan lain-lain.
Filsafat ilmu menurut Cornelis Benjamin adalah sebagai disiplin filsafat yang merupakan studi kritis dan sistematis mengenai dasar-dasar ilmu pengetahuan,khususnya yang berkaitan dengan metode-metode, konsep-konsep, praduga-praduga .
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat merupakan segenap pemikiran reflektif, radikal, dan mendasar atas berbagai persoalan mengenai ilmu pengetahuan, landasan dan hubungannya dengan segala segi kehidupan manusia.
Dalam perkembangan sains, tokoh-tokoh filsafat tidak hanya berasal dari dunia barat, tetapi di dunia timur sendiri juga terdapat pemikir-pemikir yang tidak kalah termasyhurnya dengan para pemikir barat. Khususnya dalam Islam, para filsuf seperti Ibnu Sina, Ahmad Ghazali, Ibnu Rusyd, Abed Al-Jabiri, dll merupakan para cendekiawan muslim yang sangat berjasa dalam mengembangkan ilmu baik dalam ilmu Fiqh, kedokteran, matematika, dan lain sebagainya.
Penulis sangat tertarik untuk mengkaji tentang pemikiran Ibnu Sina karena kepandaiannya dalam ilmu kedokteran. Selain itu Ibnu Sina (Ibnu Sina) adalah salah satu filsuf terkemuka di Abad Pertengahan Helenistik tradisi Islam yang teori filsafat yang komprehensif, rinci dan rasionalistik tentang sifat Allah dan Berada, di mana ia menemukan sistematis tempat bagi dunia ragawi, semangat, wawasan, dan berpikir logis varietas termasuk dialektika, retorika dan puisi.
Dari penjelasan di atas maka penulis ingin mengkaji tentang pemikiran Ibnu Sina yang mana dari pemikiran-pemikiran beliau diharapkan bermanfaat dan menambah khasanah ilmu pengetahuan.

B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas, maka dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut:
1. Siapakah Ibnu Sina?
2. Bagaimana riwayat hidup Ibnu Sina?
3. Bagaimana pemikiran-pemikiran Ibnu Sina?
4. Apa saja karya-karya yang telah dihasilkan dari Ibnu Sina?

C. TUJUAN MASALAH
Berkaitan dengan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah
1. Untuk mengetahui siapakah Ibnu Sina
2. Untuk mengetahui tentang riwayat hidup ibnu Sina
3. Untuk mengetahui bagaimana pemikiran Ibnu Sina
4. Untuk mengetahui karya-karya yang dihasilkan dari Ibnu Sina





BAB II
PEMBAHASAN

A. Tentang Ibnu Sina
Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Beliau juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, beliau adalah "Bapak Pengobatan Modern" dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.
Ibnu Sina bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā Abu Ali Sina). Ibnu Sina lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada bulan Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran).
Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak diantaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai "bapak kedokteran modern." George Sarton menyebut Ibnu Sina "ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu." pekerjaannya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).
B. Riwayat Hidup Ibnu Sina
Kehidupannya dikenal lewat sumber - sumber berkuasa. Suatu autobiografi membahas tiga puluh tahun pertama kehidupannya, dan sisanya didokumentasikan oleh muridnya al-Juzajani, yang juga sekretarisnya dan temannya.
Ibnu Sina lahir pada tahun 370 (H) / 980 (M) di rumah ibunya Afshana, sebuah kota kecil sekarang wilayah Uzbekistan (bagian dari Persia). Ayahnya, seorang sarjana terhormat Ismaili, berasal dari Balkh Khorasan, dan pada saat kelahiran putranya dia adalah gubernur suatu daerah di salah satu pemukiman Nuh ibn Mansur, sekarang wilayah Afghanistan (dan juga Persia). Dia menginginkan putranya dididik dengan baik di Bukhara.
Meskipun secara tradisional dipengaruhi oleh cabang Islam Ismaili, pemikiran Ibnu Sina independen dengan memiliki kepintaran dan ingatan luar biasa, yang mengizinkannya menyusul para gurunya pada usia 14 tahun.
Ibnu Sina dididik dibawah tanggung jawab seorang guru, dan kepandaiannya segera membuatnya menjadi kekaguman diantara para tetangganya; dia menampilkan suatu pengecualian sikap intelektual dan seorang anak yang luar biasa kepandaiannya / Child prodigy yang telah menghafal Al-Quran pada usia 5 tahun dan juga seorang ahli puisi Persia. Dari seorang pedagang sayur dia mempelajari aritmatika, dan dia memulai untuk belajar yang lain dari seorang sarjana yang memperoleh suatu mata pencaharian dari merawat orang sakit dan mengajar anak muda.
Meskipun bermasalah besar pada masalah - masalah metafisika dan pada beberapa tulisan Aristoteles. Sehingga, untuk satu setengah tahun berikutnya, dia juga mempelajari filosofi, dimana dia menghadapi banyak rintangan. pada beberapa penyelidikan yang membingungkan, dia akan meninggalkan buku - bukunya, mengambil air wudhu, lalu pergi ke masjid, dan terus sholat sampai hidayah menyelesaikan kesulitan - kesulitannya. Pada larut malam dia akan melanjutkan kegiatan belajarnya, menstimulasi perasaannya dengan kadangkala segelas susu kambing, dan meskipun dalam mimpinya masalah akan mengikutinya dan memberikan solusinya. Empat puluh kali, dikatakan, dia membaca Metaphysics dari Aristoteles, sampai kata - katanya tertulis dalam ingatannya; tetapi artinya tak dikenal, sampai suatu hari mereka menemukan pencerahan, dari uraian singkat oleh Farabi, yang dibelinya di suatu bookstall seharga tiga dirham. Yang sangat mengagumkan adalah kesenangannya pada penemuan, yang dibuat dengan bantuan yang dia harapkan hanya misteri, yang mempercepat untuk berterima kasih kepada Allah SWT, dan memberikan sedekah atas orang miskin.
Beliau mempelajari kedokteran pada usia 16, dan tidak hanya belajar teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit, melalui perhitungannya sendiri, menemukan metode - metode baru dari perawatan. Anak muda ini memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan pada usia 18 tahun dan menemukan bahwa "Kedokteran tidaklah ilmu yang sulit ataupun menjengkelkan, seperti matematika dan metafisika, sehingga saya cepat memperoleh kemajuan; saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat para pasien, menggunakan obat - obat yang sesuai." Kemasyuran sang fisikawan muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran.
Pekerjaan pertamanya menjadi fisikawan untuk emir, yang diobatinya dari suatu penyakit yang berbahaya. Majikan Ibnu Sina memberinya hadiah atas hal tersebut dengan memberinya akses ke perpustakaan raja Samanids, pendukung pendidikan dan ilmu. Ketika perpustakaan dihancurkan oleh api tidak lama kemudian, musuh - musuh Ibnu Sina menuduh din oa yang membakarnya, dengan tujuan untuk menyembunyikan sumber pengetahuannya. Sementara itu, Ibnu Sina membantu ayahnya dalam pekerjaannya, tetapi tetap meluangkan waktu untuk menulis beberapa karya paling awalnya.
Ketika Ibnu Sina berusia 22 tahun, ayahnya meninggal.Samanid dynasty menuju keruntuhannya pada Desember 1004. Ibnu Sina menolak pemberian Mahmud of Ghazni, dan menuju kearah Barat ke Urgench di Uzbekistan modern, dimana vizier, dianggap sebagai teman seperguruan, memberinya gaji kecil bulanan. Tetapi gajinya kecil, sehingga Ibnu Sina mengembara dari satu tempat ke tempat lain melalui distrik Nishapur dan Merv ke perbatasan Khorasan, mencari suatu opening untuk bakat - bakatnya. Shams al-Ma'äli Qäbtis, sang dermawan pengatur Dailam, seorang penyair dan sarjana, yang mana Ibn Sina mengharapkan menemukan tempat berlindung, dimana sekitar tahun (1052) meninggal dibunuh oleh pasukannya yang memberontak. Ibnu Sina sendiri pada saat itu terkena penyakit yang sangat parah. Akhirnya, di Gorgan, dekat Laut Kaspi, Ibnu Sina bertamu dengan seorang teman, yang membeli sebuah ruman didekat rumahnya sendiri dimana Ibnu Sina belajar logika dan astronomi. Beberapa dari buku panduan Ibnu Sina ditulis untuk orang ini ; dan permulaan dari buku Canon of Medicine juga dikerjakan sewaktu dia tinggal di Hyrcania.



C. Pemikiran Ibnu Sina
Beliau terkenal dengan rumusan sebagai berikut: Akal (pemikiran) membawa serba-semesta ini dalam bentuk-bentuk.Serba-semesta itu berada sebelum benda-benda itu terciptam.Sebelum benda-benda ada dalam pikiran tuhan. Umpamanya Tuhan hendak menciptakan kucing,sudah tentu dalam pikiran tuhan sudah ada bentuk kucing yang akan diciptakan-Nya itu.Jik kucing telah tercipta,maka pada tiap-tiap kucing itu kan didapati sifat-sifatnya.Sesudah benda serba semesta itu masih tetap ada yaitu dalam pikiran kita.Jika kita telah melihat banyak kucing,maka tampak persamaan antaranya dan dengan demikian sampailah kita kepada bentuk kucing pada umumnya.

D. Karya-karya Ibnu Sina
Kitab karangan Ibnu Sina yang terkenal mengenai filsafat adalah Al-Shifa (kamus besar tentang ilmu filsafat),yang terdiri dari tidak kurang dari 19 jilid besar.Satu-satunya naskah yang lengkap dari kitab ini terdapat di perpustakaan Universitas Oxford (Inggris) yang terkenal itu.
Selanjutnya kitab dengan judul Al-qonun Fithib (formula medical) yang berrta undang-undang ilmu ketabiban adalah kumpulan dari pusaka ilmu kedokteran Yunani purba,ada juga kitab An-Najat,dan lain sebaginya.

BAB III
KESIMPULAN
Dari pernyataan di atas bahwasanya Ibnu Sina adalah seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, beliau adalah "Bapak Pengobatan Modern" dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.Dan beliau juga seorang pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar.Banyak diantaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran.Kehidupannya dikenal lewat sumber - sumber berkuasa. Suatu autobiografi membahas tiga puluh tahun pertama kehidupannya, dan sisanya didokumentasikan oleh muridnya al-Juzajani, yang juga sekretarisnya dan temannya. Beliau mempelajari kedokteran pada usia 16, dan tidak hanya belajar teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit, melalui perhitungannya sendiri, menemukan metode - metode baru dari perawatan. Anak muda ini memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan pada usia 18 tahun dan menemukan bahwa "Kedokteran tidaklah ilmu yang sulit ataupun menjengkelkan, seperti matematika dan metafisika, sehingga saya cepat memperoleh kemajuan; saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat para pasien, menggunakan obat - obat yang sesuai." Kemasyuran sang fisikawan muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran. Beliau terkenal dengan rumusan sebagai berikut: Akal (pemikiran) membawa serba-semesta ini dalam bentuk-bentuk.Serba-semesta itu berada sebelum benda-benda itu terciptam.Sebelum benda-benda ada dalam pikiran Tuhan.Dan diantara kaya beliau yang terkenal antara lain: Al-Shifa,Al-qonun Fi thib,An-najat,dan lain sebagainya.

REFERENSI
• Muslih Muhammad,2004.Filsafat Ilmu,Surgana,Yogyakarta; Belukar.
• Mr.Haji Siddik Abdullah.1984.Islam dan Filsafat.Jakarta; PT Triputra Masa-Jakarta.
• http//id.wikipedia_org/wiki/Ibnu Sina.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar